Perjalanan-Perjalanan yang Amat Berharga : Bagai Seorang Musafir

Bismillahirrahmanirahim,

Sebelum memulai menulis ini saya sempat mencoba mencari data Hadist maupun ayat Al-Quran mengenai pentingnya melakukan perjalanan. sebab, selama ini banyak pelajaran berharga justru saya alami dalam perjalanan, banyak pertanyaan dalam benak saya juga terjawab dalam perjalanan. Perjalanan yang saya maksud ini lebih mendekati konsep Musafir, sebab seringkali dalam perjalanan tersebut saya mendapati pengalaman spiritual yang begitu berharga, yang makin menguatkan keimanan. 

Namun, entah karena saya yang keliru memasukkan keyword-nya, saya kesulitan menemukan sumber yang bisa dijadikan bahan rujukan.Oleh karena itu, jadi biarlah tulisan ini menjadi semcam Esai atau Opini, yang akan berisi mengenai Pengalaman Berharga dari Sebuah Perjalanan (Bermusafir). Banyak Pengalaman berharga yang terjajar didepan saya ketika melakukan perjalanan. contohnya, ketika semester lalu pulang ke Lampung menggunakan kapal feri saya bertemu dan langsung mengobrol akrab dengan salah seorang kolumnis Media di daerah Jakarta. disaat itu, saya...
Bertemu dengan kolumnis majalah di kapal feri.

Waktu itu, kapal feri baru meniggalkan pelabuhan Merak, penumpang pun mulai masuk ke dek penumpang yang telah disediakan. disaat saya mulai akan terlelap, rengekan dan suara ceria dari anak-anak  seketika membangunkan saya. menampakkan kepada saya drama kecil keluarga besar, dimana sang ibu terpaksa tidur dilantai dengan alas tikar, sementara sang ayah "mungkin" sedang gilirannya menggendong sang anak.  diantara jerit, dan tawa ceria itu tersibak nilai luhur kekeluargaan yang amat berharga yang mulai luntur karena hal-hal materialistik. ada 3 keluarga didepan, dan disamping saya. Setelah memperhatikkan lebih dekat, ternyata mereka semua adalah keluarga besar. keluarga besar yang baru saja selesai menjenguk  saudara mereka yang bekerja di jakarta sebagai kolumnis Majalah.

Entah bakat atau apa sebutannya, saya selalu mudah akrab dengan orang-orang yang saya temui diperjalanan, keakraban itu kemudian berkembang dari sekedar obrolan remeh temeh, sampai hal yang menyangkut hajat hidup mereka: pekerjaan, dan keluarga.

Intinya, saya juga lupa bagaimana mulai terjadi obrolan itu. si-bapak tersebut bercerita bahwa dulu ia adalah seorang preman pasar, yang gemar meminta 'jatah' dari terminal di sebuah kota di Sumatera. Sampai pada suatu kesempatan, ia bersama temannya terlibat perkelahian besar dengan anak seorang Jendral. Singkat kata, perkelahian itu terjadi untuk sebuah "eksistensi" di terminal tersebut. Hasilnya, sang anak Jendral pun kalah dan digiring kerumahnya oleh bapak tersebut. sesampainya dirumah, bapaknya -si Jendral- justru berkata "mengapa nggk dihabisi saja?". lantas kemudian, bapak tersebut diberi pekerjaan sebagai  bagian pengamanan pribadi sang jendral.

kisah berlanjut, si bapak pun menikah dengan seorang wanita yang akhirnya membuat ia berhenti bekerja di terminal. "Mendapatkan uang dengan bekerja sebenarnya dan memiliki istri itu membuat saya merasa bangga" katanya -seingat saya-. sampai suatu saat kemudian ia ditawari pekerjaan sebagai kolumnis di Majalah, tanpa ragu ia mengambil kesempatan tersebut walaupun tidak memiliki dasar pendidikan sebelumnya. ia gigih mendalami ilmu jurnalistik sambil bekerja, yang paling menarik adalah ceritanya yang berhasil mewawancarai orang penting Istana. dengan cara istimewa, bapak tersebut berhasil merubah hidupnya, juga berhasil membuat keluarga besarnya bangga, sampai-sampai rela menjenguknya walau harus melintasi lautan. (bukan kiasan hhe :D).

o iya, satu lagi. saya juga diberi kartu namanya, dan dipersilahkan jika ingin mengirimkan artikel. saya rasa akan berguna kedepannya, tertera dalam kartu tersebut "Potret" sebagai nama perusahaannya. sempat terfikir, mungkin saya mendapat petunjuk agar bisa jadi jurnalis juga. tapi masihhh "mungkin"...:D

Bertemu dengan uztad dan petuahnya yang berharga dalam perjalanan kerumah Faris Mujahid.

Bis yang saya tumpangi bersama dua kawan, Gilang Suzli, dan Giffar Mahasabih melawati satu demi satu pintu tol untuk menuju Jakarta. sampai akhirnya berhenti, disebuah daerah - yang saya lupa namanya- membawa seorang bapak dan anaknya, lalu kemudian melaju lagi dengan anggunnya. Bapak itulah yang merupakan uztad.

Lagi-lagi, saya lupa dari mana perbincangan-perbincangan berharga itu dimulai. rasanya semua terjadi dengan sangat alamiah, dan sangat membekas. ternyata, bapak tersebut merupakan salah satu organisasi masyarakat yang bergerak di bidang keamanan (sambil menunjukan lencana penghargaan yang tertera nama instansi kepolisian teringgi di DKI Jakarta, POLDA Metro Jaya).

Banyak perbincangan kami, tapi yang paling membekas adalah pernyataannya, yang menjawab kegelisahan saya selama ini. seperti paham apa orientasi saya, ia katakan: "Banyak Kekacauan di Indonesia ini sudah semestinya harus diperbaiki, diperbaiki dari mana? dari diri sendiri. lalu, perbaikilah keluarga karena kau juga kan nanti akan jadi imam keluarga. Setelah itu, kemudian berikan efek positif di Masyarakat"

disaat itu, saya yang idealis masih belum memiliki pijakan yang mantap. dan, beliau berhasil memberikan jawaban yang akan menjadi pondasi terhadap langkah-langkah saya dikemudian hari.

itulah dua kisah saya, sekian dulu sepertinya pada kesempatan ini. saat di Kosan Anugrah , Arif sempat bialng "Irsyaad itu orang paling galau, selalu difikirin apa yang orang omongin". kawan, percayalah saya merasa dari setiap ucapan -meskipun itu kebohongan- terdapat harta karun yang berharga, yaitu pengalaman. dan dalam poin ini (perjalanan bermusafir), saya merasa itu bukan obrolan yang biasa saja. saya merasa itu adalah bagian dari petunjuk ilahi. sebab, seringkali hal-hal itu muncul sesaat ketika saya memiliki kegelisahan di hati. dan seringkali jawabannya pun sangat mengena.

sahabat, coba ingat juga bahwa "Allah SWT berfirman dalam hadis qudsiy, ana `inda dzonni `abdi, Aku tergantung bagaimana hamba Ku menganggap Ku. Semua harapan, semua prasangka, semua hajat makhluknya bisa dilayani oleh kehendakNya. " (Prof. Dr. Achmad Mubarok MA , 2009, source: http://mubarok-institute.blogspot.com/)

No comments:

Post a Comment