Rabu, 03 Februari 2016

Menuju Indonesia!

Sebetulnya ada hal yang ingin saya tulis dalam-dalam, kenyataan hidup dan fakta dari pengetahuan yang saya baca, maupun kontroversi bagaimana narasi yang sebenarnya tertutup oleh narasi lainnya. Semua ini berawal dari pembacaan saya melalui media sosial mengenai makar-makar yang dibuat oleh penyusun kepentingan, hingga memori bagaimana sebuah penghancuran sebuah negara bernama Irak dirayakan seluruh dunia pada tahun 2003 atas nama 'war on terrorism'. Ada kenyataan yang sangat tidak adil bagaimana narasi yang sebenarnya diubah menjadi narasi yang menegasikan narasi yang sebetulnya atau disebut juga sebagai meta-narasi. Berkat narasi, sebuah pergerakan massa dapat terjadi, berkat itu juga manusia jadi saling membunuh dengan dalil kebenaran.

Waktu benar-benar berlalu, umurku beranjak menjauh dari hitungan 20 tahun. Setidaknya ada banyak hal yang harus kusyukuri hingga akhirnya bisa mendapatkan pengalaman seperti ini. Termasuk kesempatan menempuh studi sejauh ini. Saya sadar hidup bukanlah sekedar materi visual atau kinestik yang melenakan. Hidup adalah perjalanan untuk mengenal kebesaran Allah SWT. Sayangnya saya bukan pribadi yang dianugrahi kesempurnaan, seringkali tidak mampu menyampaikan fakta dengan benar dan tidak mampu melawan narasi yang akhirnya dipercayai kebanyakan orang-orang.

Rabu, 27 Januari 2016

Rencana, Aksi, Evaluasi, Aksi, Aksi!

Kau tahu, hari akan berlalu.
Begitu juga dengan kita, yang abadi Cuma yang Maha Kuasa.
Biar kita sadar jangan terlalu naif dengan obsesi, jangan terlalu pasrah dengan tragedi.
Biar yang terjadi biarlah terjadi.  

Jumat, 08 Januari 2016

Dunia ini Gila

Entah kenapa makin kesini makin sadar bahwa dunia ini gila.
dan siapa penyumbang kegilaan terbesarnya? iya yaitu manusia.
Ini baru di Indonesia, di tempatmu belajar, apalagi dunia?.

Untuk kepentingan dalam ketakutan dan keinginannya,
Manusia kerap kali menunjukan nafsu kebinatangannya.
Jutaan manusia mati dalam berbagai konflik tak berprinurani.

Lantas, narasi diubah seenaknya saja.
entah mengapa banyak orang terperdaya.
mengapa mereka yang mengupayakan segila itu?

Tapi, mengapakah langkah ku tak beranjak, hatiku tak bergerak.
Hai jiwa yang dalam kebimbangan,
Kau pilih hidup mulia atau mati ter-rahmat?


Selasa, 15 Desember 2015

Sakit si pengingat!

"Ya Allah, kalau memang dengan sakit ini justru makin mengingatkan aku kepada Engkau. Maka aku ridho sakit ketika mulai melupakan engkau"

Kalimat diatas itu kalimat saya 3 tahun yang lalu ketika masih tinggal ngekos di pondok anugrah, hegarmanah. Waktu itu masih galau-galaunya mau pindah kuliah atau nggk plus galau mau deketin pujaan hati atau nggak. Walhasil, dengan segudang kegalauan dan pemikiran anak muda tanggung jadwal makan jadi keteter. Beberapa kali akhirnya Jatuh sakit dan pas di cek kabarnya kena gejala tipes. Tapi, akhirnya justru sakit itu menyadarkan saya. Masuk kepada level harus bangkit dari keadaan, meskipun jujur saja pernah ngerasa bakal jadi hari terakhir karena memang udah lemes-selemesnya.

Sisi pengalaman yang kurang menyenangkan karena ngekos sendiri akhirnya memotivasi diri buat cari kontrakan. Harapannya bisa punya penghidupan yang lebih baik dan menjauhi dosa-dosa. Makanya, ngontrak pertama itu saya sebut sebagai hijrah pertama. Waktu ngontrak yang jam 10 biasanya udah tidur pindah jadi minimal jam 12. Ngapain aja? Entah juga. Rupanya sang sakit belum sembuh-sembuh juga. Tapi, Alhamdulillahnya sekarang minimal udah tau kalau misalkan ada tugas besok meskipun dikerjakannya pas waktu deadline. Dengan ngontrak, insyaallah akan terpancing ngerjain tugas ketika ngeliat temen ngerjain tugas.

Kamis, 10 Desember 2015

Berserah

Kalau kata bisa menjadi karya
maka kupersembahkan tulisan ini menjadi karya
Kalau jutaan doa tidak bisa lagi melunakkan hasratnya
maka kuserahkan diri ku ini dalam lentera ibadah kepadamu

Maka kuputuskan untuk memulainya
Untuk tahun-tahun yang panjang
Untuk keyakinan untuk terus berkembang
Aku serahkan kepadamu segalanya

Maafkan aku jika salah menafsirkan
Engkau Tuhan yang maha Mengetahui
Kulangkahkan segalanya
ditengah malam yang dingin ini.

Kalau Kata Bisa jadi Karya dan Doa menjadi Ibadah
- Irsyaad Suharyadi

Kamis, 19 November 2015

Tiga Hal

Saya nggk yakin ini bakal jadi tulisan yang bagus atau tidak. Hari ini hal yang sangat luar biasa terjadi dalam sidang pelanggaran PRAMA UNPAD 2015. Cukup mengerikan, kecuali bagi orang-
orang yang berkata 'lillah'.

Niatan saya untuk belajar dalam proses politik di Unpad di berikan secara tuntas oleh YME. Dari yang damai, penuh analisa, lalu menyentuh kerjasama, sampai menghadapi serangan. Semoga saja itu pertanda tahun depan saya juga sudah lulus dan masuk babak baru. Tapi, sebagai anak baru saya sempet ketar ketir dengan kondisi yang ada. Tapi, betul katakawan saya seberat apapun hari pasti berlalu. Alhamdulillah hari ini berlalu.

Besok, pagi-pagi sekali saya akan mengantar adik berobat ke RSHS. Sekitar 3 jam dari saat ini saya harus segera meninggalkan kasur untuk ke Bandung. Untuk membayar kegagalan menjadi kakak yang baik di masa lalu. Dua bulan ini sungguh sangat sibuk sekali. Tapi, mungkin inilah saatnya untuk mencurahkan segalanya kepada Allah. Semuanya.

Satu perkataan yang akan saya ingat baik-baik, yaitu:
 "Ada Tiga Hal yang Harus di Hindari, yaitu Marah, Sombong, dan Terburu-buru" (Farhan,2015)

Rabu, 28 Oktober 2015

Setelah lama tidak menulis...

Enggak kerasa umur sudah semakin
'siang' saja.
Mulai akrab sama permasalahan-permasalahan dewasa,
dan juga mulai menyesal belum bisa melakukan yang terbaik,
Padahal sudah tau waktu tidak akan berulang.

Mulai mengerti perbedaan antara pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran.
Mulai mengerti perkataan sufi hidup adalah antara waktu shalat ke waktu shalat lainnya.
Menjadi paham betapa pribadi ini banyak tidak tahunya,
dan juga tentang ketetapan Allah dan usaha Manusia.

Sepertinya hidup sudah lebih tenang sekarang, meskipun kadang2 buru-buru karena telat kekampus.
Akan tetapi, rasanya ada sesuatu kekuatan yang sedang berkembang menyesakkan dada.
Semacam perasaan saat Goku saat mengeluarkan Kamehameha atau Rasengan milik Naruto. (sok tahu)
Tapi, apakah itu?

Apakah itu jiwa yang ingin berkelana? atau Akal yang ingin berekspresi? atau
Raga yang butuh perjalanan? Atau hati yang merindukan cinta? Cinta dalam arti yang luas?

Maka, saya ingin mengutip salah satu motto komunitas pendaki gunung yaitu "Kapan kita kemana?", atau Albert Einsten yang tidak bilang "Besok kita mau mempelajari apa?",
Atau bahkan mengutip lagu milik Edcustic, yang mengatakan "Nantikanku di batas waktu!"

Semoga Allah beri pencerahan agar tidak salah jalan lagi, agar tidak lupa diri lagi!
Agar hidup lebih berbahagia, agar hidup lebih bermanfaat. Rasanya semua perasan berkumpul menjadi satu, namun mulut masih saja tertutup rapat. Ampuni, Hamba ya Allah!!

Sebentar lagi waktu akan membawa saya lebih banyak bermanja-manja dengan skripsi, bercanda dengan kisruh politik, berkelana dengan jutaan kisruh dalam jiwa yang belum tergambarkan. Setelah itu, pilihan terhampar mau hidup mapan atau berjuang sambil mempertaruhkan makan pada keesokan paginya.

Oh perjalanan ini sungguh panjang, masih ada keinginan untuk bisa membahagiakan orang tua dengan banyak berada bersama mereka. Untuk membayar semua ketidaktahuan saya selama di sekolah menengah atas dengan membiarkan orang tua hanya menyaksikan lelah dan suara pintu tertutup. Maafkan. Juga terhadap adik yang tidak dapat sepenuhnya saya beri perhatian. Ingin sekali rasanya akrab dengan kalian, bercanda dengan adil, dan bermain bola bersama. Semuanya akan berlalu, kalian akan tumbuh  dewasa. Benar kan?

Ya Allah, perasaan ini sungguh bukanlah hal yang biasa. Maafkan aku tidak pernah mengatakannya. Bersikap sombong kepada Engkau. Maafkan terlena kepada sikap yang cenderung biadab. Terutama setelah apa yang engkau berikan selama ini. Maafkan juga orang yang pernah tersakiti hatinya oleh saya. Sungguh, tidak ada maksud berbuat demikian.

Ini hanyalah sebuah pernyataan,
rasa bersalah atas kejadian selama ini.
Dicatat, bukan untuk diulang.
Diingat, bukan untuk dilakukan kembali.

Sekarang, masa depan memaksaku melihat mentari yang cukup menyilaukan.
Mengetengahkan kembali pengalaman masa lalu dan menawakan masa depan yang gemilang.
Dengan tegas dia bertanya, siapkah untuk menjalaninya?

Kamis, 24 September 2015

Pulang Kampung : Realitas

Ceritanya, hari ini saya baru tiba di Lampung Tengah. Prosesi Shalat dan Makan ketupat terpaksa dilakukan diperjalanan (di Natar, Lampung Selatan) Karena terlambat nyaris 2 jam dan khawatir akan ketinggalan shalat ied kalau maksain ke rumah. Seperti biasa pemuda-pemuda di kampung kami (Perumahan Batara, Gang Semendo, Gang Lombok, Gang Bengkulu, dan Gang Sepakat) selalu bertemu di masjid. Apalagi saat libur panjang, pasti banyak pemuda yang merantau balik lagi ke Kampung Halaman. Meskipun enggak alim-alim banget, mesjid sudah menyatukan kami. Dari yang awalnya cuma numpang main bola, ikut TPA, bandel lagi, sampai akhirnya jadi Risma waktu Ramadhan. Hari ini kami kumpul lagi, setelah Yasinan (cuma berdua) kami berdelapan mencari warung kopi baru di daerah Merapi. Setelah muter-muter cari tempat ngopi ternyata pada tutup semua. Akhirnya, kami merapat di warung kopi sederhana di depan Mesjid Istiqlal Bandar Jaya.

Dimulai dengan obrolan kacau balau, sampai akhirnya menyenggol karier dan pertanyaan mau berbuat apa buat Lampung Tengah. Enang membuka diskusi seperti membuat usaha yang bisa memanfaatkan momentum Pilkada. Sementara, Enan yang baru membuka toko 'Starkom' merasa lebih baik membuka usaha yang untungnya seribu-duaribu tapi berkah dibanding bekerjasama dengan politisi. Eki yang merupakan Ketua SAPMA Pemuda Pancasila Lampung Tengah  yang dekat dengan tokoh politik sendiri berusaha menjaga jarak dalam pemilihan kepala daerah kali ini. Selain sangat beresiko, selama kita menjadi 'kaki' kita hanya akan menjadi 'kaki' terus. Memang, politik akhirnya akan berurusan dengan uang. Tapi, menurut Eki juga ada peluang untuk membuat perbaikan di Lampung Tengah dengan 3 cara, yaitu dengan menjadi Kepala Daerah, Menjadi Legislatif dengan dukungan minimal satu fraksi, atau Menjadi orang Kaya.

Selasa, 01 September 2015

Umat Islam Harus Berpartisipasi dalam Pembangunan Nasional

Dalam perkembangan pemberitaan nasional maupun internasional, umat muslim sering mendapatkan tekanan yang harusnya dapat menjadi evaluasi bagi kita agar lebih peduli dalam membawa nama Islam. Umat Islam yang menempati urutan pertama jumlah penganut agama di Indonesia harusnya mampu berpartisipasi dalam Pembangunan Nasional. Banyak hal yang harus diperbaiki, Banyak hal baik yang perlu di teladani. Islam bukanlah koruptor, bukanlah Teror. Semangat-semangat seperti inilah yang seharusnya diarahkan untuk berpartisipasi dalam pembangunan Nasional. Apalagi kebanyakan masyarakat yang tidak mampu juga beragama Islam. Hal ini tentunya dapat menjadi dorongan semangat tersendiri bagi golongan muda Islam yang saat ini sedang dalam masa-masa persiapan untuk berkontribusi bagi negeri. 

Visi Besar, Misi Jelas

Upaya-upaya tersebut tidak akan terwujud tanpa adanya sebuah visi yang besar. Sebuah visi akan mengantarkan individu maupun kelompok ke dalam upaya-upaya besar untuk mensukseskan Visi tersebut. Permasalahan yang timbul dapat diambil sebagai pembelajaran, misalkan: konflik beberapa kelompok agama, pencemaran nama baik oleh Koruptor dan Pejabat yang tidak Amanah, dll. Seorang muslim sebetulnya telah memiliki visi besar yakni kehidupan yang baik di Akhirat. Akan tetapi gagasan besar ini perlu detail lebih lanjut, seperti amalan apa saja yang perlu dilakukan untuk mendekatkan diri kita kepada Allah SWT? Salah satu hadis shahih menerangkan bahwa amalan seseorang tidak bisa memasukan dirinya kedalam Surga. Hadist tersebut berasal dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ
“Amalan seseorang itu tidak akan bisa memasukkannya ke dalam surga.” Para sahabat bertanya: “Tidak juga anda, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab: “Tidak pula aku, akan tetapi Allah telah melimpahkan keutamaan dan rahmat-Nya kepadaku.” [HR Al Bukhari (5673) dan Muslim (2816)] 

Hadist diatas menerangkan bahwa seseorang tidak dapat masuk surga kecuali disebabkan keridhoan Allah SWT. Hal ini disebabkan beberapa manusia yang melakukan amalan untuk meraih simpati dari orang lain. Jadi sebelum kita membahas lebih jauh, mari kita luruskan niat kita. Apa yang kita lakukan ini semata-mata mengejar Ridho Allah dan bukan karena keinginan mendapatkan kekuasaan maupun imbalan lainnya. Ada banyak tuntunan Islam dalam kehidupan sehari-hari maupun yang berkaitan dengan Pembangunan Nasional. Salah satu ayat yang paling saya soroti yakni untuk membela kaum dhuafa dan tidak merusak alam. Arahan untuk membela kaum duafa dibahas lengkap oleh Dr. Kuntowijoyo dalam bukunya berjudul Dinamika Umat Islam di Indonesia  Menurutnya, Tahun 1985, 36 juta penduduk dari kelas lemah secara ekonomi maupun politik adalah kaum muslimin. Mereka yang miskin, bodoh, sakit-sakitan, adalah kaum muslimin. Inilah kenyataan kita yang harus kita perbaiki. Selain itu, Al-quran sendiri telah mengingatkan sebanyak 22 kali tentang perkara melindungi kaum Dhuafa, diantaranya pada surat Al Baqarah ayat 83, 177, 215, 220, An Nisa ayat 2, 3, 6, 8, 10, 36, dan 127, Al An'aam ayat 152. Islam juga sangat peduli terhadap nasib anak Yatim. Hal tersebut terlihat pada hadist tentang anjuran Rasulullah saw untuk memperlakukan dengan baik kaum yatim ''Sering-seringlah mengusap kepala anak yatim,'', dan ''Hiasilah rumahmu dengan (memelihara) anak yatim.'' 

Bpk. Sobirin
Sementara anjuran Islam untuk menjaga alam saya dengar pertama kali dari tokoh penjaga kebersiha n di Kota Bandung bernama Bapak Sariban saat mengisi Dialog Tokoh di Asrama PPSDMS Regional 2 Bandung. Baginya, lingkungan atau alam perlu dilestarikan sebab hal itu merupakan amanah dari Allah SWT. "Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi". Selain itu, pertemuan saya dengan Pak Sobirin sebagai mantan kepala PUSAIR dan saat ini menjadi tokoh di Dewan Pemerhati Lingkungan Tatar Sunda (DPLTS) telah mengajarkan betapa indahnya Islam memerintahkan manusianya menjaga lingkungan. Beliau mengutip ayat "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)." (QS Ar-Ruum ayat 41). Kini, beliau dan DPLTS  aktif memperjuangkan agar penggunaan Waduk Jatigede dibatalkan karena berdampak negatif bagi lingkungan.

Jumat, 28 Agustus 2015

Gelas yang Pecah


Seperti gelas yang pecah,

Kadang kita perlu membersihkannya

bukan untuk mengembalikannya seperti semula

tapi untuk mencegah orang lain atau diri kita sendiri terluka.

Begitu juga dengan Hati

Sekian.


*Pikiran selintas saat membersihkan gelas pecah di Asrama PPSDMS Bandung, 28 Agustus 2015

Senin, 24 Agustus 2015

KKNM-PPMD UNPAD Desa Sindang Panji 2015 (Bagian Akhir)

Assalamualaikum Wr Wb

Perjalanan saya sebagai mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) akan segera berakhir. Banyak suka dan duka dalam perjalanannya. Pada kesempatan kali ini saya ditunjuk sebagai Koordinator Desa. Bagi saya, kesempatan KKN kali ini sangat berkesan dan memberikan tambahan semangat untuk berbakti bagi negeri, meskipun secara kelembagaan di internal masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diperbaiki.  Hari ini saya bertekad menyusun berbagai pengalaman tersebut dalam sebuah karangan singkat sekaligus sebagai tugas dari Universitas dengan tema "Jika aku Menjadi Pengusaha Kreatif di Sindang Panji". Selamat menikmati :)

Asal usul nama Sindang Panji berasal dari kata "Sindang" yakni posisi terluar atau perbatasan dan "Panji" yang merupakan sebutan leluhur masyarakat di desa ini. Sampai hari ini makam 'mbah' Panji ini masih terjaga dengan baik dan beberapa pengunjung dikabarkan pernah menziarahi kuburan tersebut. Desa Sindang Panji adalah desa yang memiliki cita rasa kota. Desa ini dilalui oleh akses ke luar kota yaitu jalur Tasikmalaya-Cirebon dan Jalur Bandung-Kuningan via Cikijing. Desa Sindang Panji memang menjadi perbatasan antara Kabupaten Majalengka dan Kuningan. Bahkan, mayoritas masyarakat Sindang Panji melanjutkan pendidikan, berbelanja, dan berwisata ke Kuningan. Desa Sindang Panji memiliki topografi yang kaya yang terdiri dari perbukitan, kawasan perdagangan, kawasan pemukiman, dan kawasan pertanian di lokasi yang lebih datar. Pada awal kegiatan di Desa  saya sering berjalan-jalan untuk melihat kondisi desa tsb. Hasilnya ada satu wilayah yang saya fikir berpotensi untuk dikembangkan sebagai daerah wisata, yaitu pada daerah bukit sebelum masuk wilayah Kuningan yang bisa disejajarkan dengan lika-liku Cadas Pangeran dan keindahan "City View" layaknya di Punclut. Alhasil saya memutuskan untuk menjadi Pengusaha Kreatif di Desa Sindang Panji.

Jumat, 21 Agustus 2015

Untuk Perempuan yang Melihat Bintang penuh Harapan

Untuk kamu yang melihat bintang penuh harapan
Cinta kadang bukanlah sesuatu yang sederhana
Bukan juga hal yang rumit dan perlu dipusingkan
Cinta ialah anugrah terindah yang bahkan perlu kamu bawa sampai surga

Begitu juga dengan mu, aku melihat di dirimu
Bola matamu, tawa candamu, atau sekedar lirikan itu
Menyatu sempurna sebagai isyarat tertentu
Menyaksikan diriku yang dulu dan harapanku

Aku belajar dari semua kesalahan
Bahwa Cinta bukan masalah yang harus diselesaikan
Bahwa perempuan juga tidak perlu kepastian
Kepastian dari Manusia yang sering membuat kecewa

Seperti bintang yang kau lihat sepintas lalu
Atau matahari yang esok akan menyapamu
Semua berputar dalam sebuah kepastian
Jangan salah langkah, semua dalam kepastiaanNya.

Semua Orang Berhak Bahagia

Semua orang punya hak untuk bahagia
Entah orang tua, janda muda, atau anak yang lahir duluan
Sebab Tuhan maha pengampun

Semua orang punya hak bahagia dan butuh dibahagiakan
Pejabat yang macam dewa, atau tukang asongan yg berjualan celana
Semuanya memiliki hak bahagia

Perempuan yang sudah tidak gadis lagi
Atau pria yang hidup layaknya zombi
Semua dari mereka masih punya kesempatan bahagia

Sebab Tuhan maha penyayang maha pengampun
Mengapa demikian sulit menghilangkan stereotip pada mereka
Mereka manusia juga punya hak bahagia

Minggu, 02 Agustus 2015

KKNM-PPMD UNPAD Desa Sindang Panji 2015 (Bagian 2)

Hari ke-5
                Kunjungan ke dusun2 adalah sebuah kegiatan yang paling banyak dinanti beberapa teman karena kita akan lebih dalam belajar kepada masyarakat. Maklum saja, rumah pemondokan kami yang berada tidak di pusat pemukiman warga menyulitkan interaksi kami terhadap warga. Harapan saya tidak berlebihan, yang penting kita mulai mampu berkenalan dengan warga. Mensejajarkan diri dengan warga masyarakat, bahwa orang kota dan desa mempunyai derajat yang sama. Sehingga, kelak pembangunan dapat lebih merata. O iya, hari ini kami mengunjungi ibu Ros (pengusaha jeans 74) yang sudah cukup berkembang usahanya. Sayangnya, beliau bersama beberapa saudaranya mengalami penundaan pembayaran dari pembeli di Medan senilai 350juta. Permasalahan ini nantinya akan coba diselesaikan melalui pendekatan komunikasi pemasaran sebagai program unggulan KKNM-PPMD UNPAD Desa Sindang Panji 2015.

Hari ke-6
                Setelah hari-hari yang – menurut saya tidak – serius, akhirnya kami akan pergi jalan-jalan. Yeay! Sebelum jalan2 saya sempat melakukan survei terlebih dahulu bersama Edo. Khusus untuk bagian ini, biarkan foto-foto yang berbicara banyak :D

Jumat, 31 Juli 2015

KKNM-PPMD UNPAD Desa Sindang Panji 2015 (Bagian 1)


Hari Ke -1
                Sindang Panji adalah sebuah nama daerah dimana berdirinya sebuah institusi terkecil milik negara, mungkin kita lebih akrab menyebutnya sebagai desa. Memang bukan kota tapi juga sudah bukan desa. Sindang Panji adalah sebuah fenomena perubahan desa menjadi kota melalui terbukanya akses ke kota yang terdekat, yakni Kuningan. Hari ini kami tiba di desa tersebut. Bersama dengan 20 teman dari berbagai fakultas lainnya dalam sebuah program bernama KKNM – PPMD Integratif Universitas Padjadjaran. Beristirahat sebentar, agar siap untuk beraktivitas selama 30 hari kedepan. Tertanda Kordes!

Hari Ke- 2
                Pagi-pagi sekali, teman dari desa Cisoka datang ke rumah kami. Padahal, rencananya kami juga akan berangkat berkunjung ke Desa Sindang Panji. Akhirnya, setelah terasa cukup berbincang-bincang kami memutuskan untuk bersama ke desa Cisoka. Desa kami dan desa Cisoka berada dibawah bimbingan bapak Suwandi, yakni dosen dari FIKOM yang bertekad mengadakan kegiatan terkait komunikasi pemasaran. Sesampainya disana kegiatan terbagi diantara silaturahmi dan temu kangen teman satu fakultas ataupun berbagai hubungan lain yang – kalaupun tidak ada – dihubung-hubungkan (Sontohnya:Sama-sama dari Garut/Tasik, atau sama2 dari Unpad (?)). Senyum pun terkembang diantara mereka, tak terkecuali para Pria yang akhirnya bertemu dengan Jihan. Mahasiswi asal malaysia yang - boleh lah – kita sebut cantik. Dalam kesempatan ini juga keluar berbagai rencana, gagasan, harapan dari kedua kelompok, serta gombalan dari mang asep. Sebuah bentuk sempurna dari pertemuan yang tidak direncanakan. Mohon maaf kami minta sedikit Soerabinya ya :)

Sabtu, 11 Juli 2015

Tugas Manusia sebagai Khalifah dan Janji-Janji Surga

[30 Menit Menulis]

Selamat Pagi rekan-rekan!
                Semalam saya dihampiri pemikiran menggelitik mengenai sebuah pertanyaan dilematis dari janji-janji surgawi yang dinilai cenderung penuh birahi dari orang-orang yang gemar mengkritik kandungan atau isi Al-Quran. (Anda dapat melihatnya disini) Di dalam Al-Quran, disebutkan bahwa Allah menjanjikan kehidupan yang baik dan abadi di Surga dimana terdapat sungai yang mengalir jernih seperti susu, gelas anggur yang tidak menyebabkan keluarnya omongan yang tidak berguna, dan bidadari-bidadari yang disiapkan oleh Allah S.W.T. Beberapa hal yang akan diperoleh orang beriman Islam di Surga tersebut merupakan hal yang terlarang di Bumi. Setelah merenunginya sebagai seorang Muslim sudah sepatutnya kita mempercayai keseluruhan isi Al-Quran. Ada dua hal utama yang dapat menjelaskan ketentuan Allah tersebut.
                Pertama, sesungguhnya Allah S.W.T sebagai pencipta kita maha mengetahui makhluk ciptaannya. Allah S.W.T membekali manusia dengan berbagai ragam fungsi dimana terdapat kebutuhan psikis maupun fisik termasuk kebutuhan seksual. Hal tersebut dapat kita ketahui dengan ditemukannya dzat kimia aktif di otak yang dapat mendorong kebutuhan seksual yang perlu untuk dipenuhi. Akan tetapi, upaya pemenuhan yang salah akan membawa bencana bagi Manusia yaitu seperti penyakit seksual, kerusakan hubungan rumah tangga, dll. Sementara, Allah SWT yang maha mengetahui telah memperbolehkan hubungan seksual dalam pernikahan sebagai wujud kasih sayang-Nya dan juga merupakan Sunnah Rasulullah SAW.
                  Kedua, Manusia juga memiliki tugas dibumi sebagai Hamba Allah dan Khalifah di Bumi. Inilah yang menjadi gagasan pokok pikiran saya mengapa hal-hal yang dilarang Allah di Bumi akhirnya diberikan Allah di Surga. Menurut saya, alasannya karena apabila hal-hal tersebut tidak diatur dapat mengganggu manusia dalam menjalankan tugas nya di bumi. Akan tetapi, saat sudah berada di Surga tugas Manusia sebagai khalifah pun telah berakhir dan tinggal menunggu pembagian rapot dan janji surga tersebut sebagai penghargaan dari Allah S.W.T. Dengan demikian, saya menyimpulkan bahwa terlalu 'naif' orang yang mengkritik surga karena Allah maha mengetahui kebutuhan manusia. Selain itu, Kita juga dapat mengkaji secara ilmiah berbagai perintah Allah yang terbukti bermanfaat bagi manusia secara ilmiah. 

Jumat, 12 Juni 2015

Refleksi Ujian Akhir Semester Genap 2015


Assalamualaikum Wr Wb,

Apa Kabar? 
Semoga siapapun itu semoga dalam keadaan baik hehe. Berprasangka baik kepada ketentuan Allah SWT.

Hari ini, saya ingin bercerita mengenai Ujian Akhir Semester (UAS) HI UNPAD 2012 yang telah berakhir. Kami menyebutnya sebagai Marathon UAS karena terdapat 8 ujian masing-masing 2 ujian setiap hari beserta tugas lainnya. Oleh karena itu, kami perlu menyiapkannya dengan sangat baik. Ujian kali ini sangat penting karena hasilnya akan menentukkan apakah saya akan bertahan di Asrama PPSDMS Regional 2 Bandung dan tentunya jawaban dari pertanyaan keramat: Seberapa lama saya akan lulus?. Cerita ini nanti akan dibagi menjadi tiga bagian pokok yaitu bagaimana persiapan menghadapi ujian tsb, sikap seperti apa yang diperlukan dalam mengerjakan ujian, dan Dua Doa Lagendaris. Khusus bagian Dua Doa Lagendaris ini bakal jadi special edition. 

Persiapan yang Matang

Meskipun belum juga pengumuman, pada ujian kali ini saya merasa lebih tenang dan tidak terlalu banyak penyesalan karena persiapan yang lumayan lebih baik. Bukan semalaman belajar atau sudah disiapkan sejak lama, namun setidaknya cukup untuk menjadi gagasan pokok untuk mengembangkan jawaban uraian berikutnya. Selain itu, domisili yang berada di Bandung ternyata betul-betul menguras tenaga dan perlu dicari alternatifnya.

Selasa, 02 Juni 2015

Penumpang dan Taksi yang Tak kunjung Datang


Sadang Serang, 02 Juni 2015

                Malam lalu, aku pulang sedikit malam. Belum berbuka puasa, dan belum shalat maghrib. Waktu itu Bandung sangat macet sekali, Dari Jatinangor yang biasanya hanya 90 menit jika menggunakan damri melonjak menjadi 150 menit. Alhasil, sampai pun terlambat. Akan tetapi, ada satu hal yang menarik ketika saya menyaksikan dua orang yang berdiri diantara kegelapan yang remang-remang maghrib itu sambil menanti Taksi atau yang lebih tepatnya angkot. Sayangnya kedua orang tersebut bukan menunggu di terminal, melainkan di tempat yang sedikit lebih jauh dengan harapan tidak harus menunggu angkot itu ngetem.
                Dalam kondisi malam-malam yang semakin gelap gulita tersebut, saya berfikir apabila taksi yang ditunggu-tunggu juga berfikir bahwa mungkin tidak ada penumpang lagi. Maka penumpang dan taksi tidak akan pernah bertemu. Pada titik ini, asumsi saya melambung bahwa cinta pun demikian. Apabila tidak ada yang berupaya menghampiri tidak akan tercipta pertemuan. Sebuah hal yang kemudian membuat saya menarik nafas dalam-dalam. Namun, belum selesai tarikan nafas itu terasa ngilu ketika diujungnya. Masih tersisa namamu. Mungkin inilah mengapa orang mengatakan bahwa “ini dari hati yang paling dalam”. Adalah paling dalam karena ketika semua bayang berusaha kuhilangkan, sebutan tentang dirimu masih bertahan. Dan setiap tarikan nafas aku berusaha berdamai dengan semua ini.
                Maha suci Allah, yang menciptakan manusia berpasang-pasangan. Sungguh, Dzat yang mampu membolak-balikan hati makhluknya. 

Kamis, 21 Mei 2015

Akhirnya Mengerti Juga : Manfaat di balik Larangan Allah SWT

Sungguh manusia itu bersifat bodoh, ia merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. Orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaqwaan. orang-orang yang senantiasa dihatinya mengharapkan keridhaan Allah. Selama ini, aku mengikuti sebagian besar aturan Islam dan aku ikhlas karenanya bukan pula karena pandangan orang atau apa. Namun, karena kesadaran diri atas keberadaan ilahi. Sayangnya, aku masih sulit berhenti untuk urusan ini sampai aku mengerti sendiri. Aku mengerti mengapa pada sebuah promosi kondom di masa Valentine orang menyertakan Coklat. Aku mengerti mengapa Islam sangat amat menganjurkan menikah. Sampai akhirnya aku mengerti bahwa di balik larangan zina mata, telinga, maupun hal lainnya itu semata-mata diberikan untuk kebaikan manusia. Dia yang menciptakan manusia, maka dia yang paling tahu rumusan tubuh manusia. Aku merasakan respon biologis tidak sesuai dengan kontrol di akal. Dalam hal ini, aku khawatir bahwa badan sudah terbiasa dan punya kecenderungan negatif. Hari ini, saya sudah keterlaluan karena tidak mampu mengontrol emosi lagi. Semoga tulisan ini menjadi prasasti bahwa hal tersebut benar-benar tidak terjadi lagi. setahun, atau dua tahun lagi untuk bersabar. Lalu sempurnakanlah agama, jadilah pribadi yang baik. Mohon ampun atas segala dosamu. Jadilah seorang seperti yang sebenarnya kau inginkan. bukan orang yang dapat dikendalikan dengan hawa nafsu.

Berjanjilah.